Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thakib: Ilmu Lebih Utama Daripada Harta

Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thakib: Ilmu Lebih Utama Daripada Harta

Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi SAW, merupakan salah seorang sahabat yang diutamakan karena ilmunya. Pengakuan itu muncul langsung dari Nabi SAW dengan sabda beliau, “Ana madinatul ‘ilmi, wa ‘aliyyun baabuhaa”

Maksudnya adalah : Saya (Nabi SAW) adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintunya, yaitu pintu dari kotailmu tersebut. Tentu yang dimaksud ‘ilmu’ tersebut khususnya ilmu agama dan tentang alam akhirat, karena dalam suatu kesempatan lainnya, Nabi SAW pernah bersabda, “Kalian lebih tahu (daripada aku) tentang urusan duniamu!!”

Para sahabat yang selalu “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami mentaatinya) dengan semua perkataan dan sabda-sabda beliau itu tidak pernah mempermasalahkan, bahkan tidak jarang mereka meminta nasehat dan pendapat Ali dalam suatu permasalahan, walau usia Ali mungkin lebih muda. Dan jika Ali telah memberikan suatu pendapat dan pandangan, mereka akan mengikutinya, termasuk Umar bin Khaththab ketika menjadi khalifah.

Ketika Nabi SAW telah wafat beberapa tahun lamanya, ada sekelompok orang yang meragukan keilmuan Ali. Sebagian riwayat menyebutkan, mereka itu dari kaum Khawarij, satu kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertentangan dengan Muawiyah. Tetapi ketika Ali ‘mengikhlaskan’ melepas jabatan khalifah, karena sebenarnya memang tidak berambisi, demi untuk persatuan umat Islam saat itu, kaum Khawarij itu berbalik melawan dan menentang Ali. Kaum Khawarij ini banyak penyimpangannya sehingga sebagian besar ulama menganggap sebagai kelompok yang sesat.

Mereka ini bermusyawarah dan memutuskan akan mengirim sepuluh orang dengan masalah (pertanyaan) yang sama. Jika Ali memberikan jawaban yang sama walau dengan pertanyaan yang sama, maka sebenarnya Ali ‘tidak pantas’ menyandang gelar sebagai pintunya ilmu sebagaimana disabdakan Nabi SAW. Orang pertama datang menghadap Ali dan berkata, “Wahai Imam Ali, manakah yang lebih utama, ilmu atau harta??”

“Ilmu” Kata Ali.

“Mengapa ilmu lebih utama??” Katanya.

Maka Ali berkata, “Sesungguhnya ilmu itu warisan para Nabi, sedangkan harta itu warisan dari Qarun, Fir’aun, Hammam, Syaddad dan lain-lainnya!!”

Orang pertama itu membenarkan dan berlalu pulang. Tentu saja jawaban Ali tersebut bersifat umum, karena ada juga orang yang diberikan kelimpahan harta, dan bisa memanfaatkan dengan baik untuk kemanfaatan hidupnya sesudah mati, baik di alam kubur, terlebih lagi di alam akhirat. Misalnya saja Ummul Mukminin Khadijah RA, Abu Bakar ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Aus, Qais bin Sa’d bin Ubadah, dan beberapa sahabat lainnya. Intinya, jika harta itu berada di tangan orang yang dermawan dan sangat perduli pada kaum fakir miskin, maka kedudukan harta tidak kalah utamanya dibandingkan ilmu.

Orang ke dua datang menghadap Ali dengan pertanyaan yang sama, dan Ali menyatakan ilmu lebih utama daripada harta. Tetapi ia menyampaikan alasan yang berbeda, “Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang harus menjaganya!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke tiga datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu banyak sekali sahabatnya (dan murid-muridnya), sedang pemilik harta akan banyak sekali musuhnya (dan orang yang bermanis muka hanya untuk memperoleh pemberiannya, walau mungkin di dalam hati membencinya)!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke empat datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Ilmu akan bertambah jika engkau gunakan, sedangkan harta akan berkurang jika engkau menggunakannya!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke lima datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu akan selalu dihormati dan dimuliakan karena ilmunya, tetapi pemilik harta, akan ada saja yang memanggilnya sebagai si pelit, karena ia tidak memperoleh bagian dan manfaat dari harta tersebut!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke enam datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik harta harus selalu hati-hati dan menjaga agar tidak diambil oleh pencuri, sedang pemilik ilmu tidak perlu menjaganya!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke tujuh datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pada hari kiamat, pemilik harta harus susah payah mempertanggung-jawabkan hartanya, sedangkan pemilik ilmu akan memperoleh syafaat dari ilmu yang dimilikinya (dan diamalkannya)!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke delapan datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, harta akan menjadi aus dan rusak, sedangkan ilmu tidak akan menjadi aus dan lenyap!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Ketika orang ke sembilan datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Harta bisa membuat hati menjadi keras dan akhirnya bersifat bakhil (karena terlalu cintanya kepada harta), sedangkan ilmu akan selalu menjadi penerang dan penyejuk hati!!”

Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

Dan akhirnya orang ke sepuluh datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu akan diberi gelar sebagai ilmuwan, sedangkan pemilik harta akan dipanggil atau digelari Tuan Besar!!”

Tampaknya Ali mengetahui (dengan ilham dari Allah, atau dari analisa pikirannya) niat dari orang-orang yang datang dengan pertanyaan yang sama tersebut, dan kepada yang terakhir datang itu, Ali berkata, “Andaikata kalian mengirim lebih banyak lagi orang dengan pertanyaan yang sama, pastilah aku akan memberikan alasan yang berbeda selagi aku masih hidup!!”

Memang, keutamaan ilmu atas harta tidak sepuluh itu saja, masih banyak lagi. Misalnya, pertanyaan akhirat (yaumul hisab) atas ilmu hanya satu, yakni apa dan bagaimana ilmu itu diamalkan? Sedangkan atas harta ada dua, pertama darimana dan bagaimana diperoleh harta tersebut diperoleh? Dan kedua, kemana dan bagaimana harta tersebut diamalkan (dibelanjakan)? Misalnya lagi, ketika seseorang meninggal, ilmu akan menemani pemiliknya hingga masuk kubur, bahkan bisa menjadi teman dan penolongnya menghadapi malaikat, tetapi harta hanya akan mengantarnya hingga ke pintu pemakaman, atau sampai ia diurug dengan tanah, setelah ia akan menjadi milik ahli warisnya. Dan masih banyak lagi yang bisa dikupas dari berbagai hadits-hadist Nabi SAW.

Setelah kembali dan menyampaikan pesan tersebut, mereka (kaum Khawarij itu) berkhidmad kembali kepada Ali bin Abi Thalib dan memperbaiki keislamannya dengan bimbingan beliau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s