Kalimat Super : Kalimat Paling Inspiratif Bagi Kehidupan Manusia dari Imam Al Ghazali

Kalimat Super : Kalimat Paling Inspiratif Bagi Kehidupan Manusia dari Imam Al Ghazali

  • “Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita. Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa.” (Imam Al Ghazali)
  • “Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.” (Imam Al Ghazali)
  • “Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang saya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Barangsiapa yang memilih harta dan anak-anaknya daripada apa yang ada di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat besar.” (Imam Al Ghazali)
  • “Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk mengumpulkan harta karena takut miskin, maka dialah sebenarnya orang yang miskin.” (Imam Al Ghazali)
  • “Teman yang sesungguhnya itu adalah ketika kamu memintanya untuk mengikuti kamu, dia tidak bertanya kemana atau dimana, namun segera beranjak dan pergi.” (Imam Al Ghazali)
  • “Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada hamba-hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada haknya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Berani (karena baik dan benar) adalah sifat orang mulia karena ia berada di antara orang-orang pengecut dan membuta tuli.” (Imam Al Ghazali)
  • “Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari, maka payah melaluinya, panjang jalannya dan banyak rintangannya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap saat.” (Imam Al Ghazali)
  • “Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.” (Imam Al Ghazali)
  • “Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.” (Imam Al Ghazali)
  • “Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ibadah dan pengetahuan sambil memakan makanan haram adalah seperti konstruksi pada kotoran.” (Imam Al Ghazali)
  • “Pemurah (dermawan) itu adalah suatu kemuliaan karena ia berada di antara orang-orang bakhil (rakus-pelit) dan boros.” (Imam Al Ghazali)
  • “Bersungguh-sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan karena jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan sholat serta ibadah yang lainnya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah makhluk mulia yang mana ia menjadi mulia karena ilmu, tanpa ilmu mustahil ada kekuatan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Sebisa-bisanyalah jangan bertengkar dengan seseorang dalam keadaan apapun juga masalahnya, karena pertengkaran itu mengandung berbagai penyakit dan dosanya jauh lebih besar daripada faedahnya, riak, takabur, hasad dan dengki.” (Imam Al Ghazali)
  • “Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan, penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong.” (Imam Al Ghazali)
  • “Carilah hatimu di tiga tempat. Temui hatimu sewaktu bangun membaca Al-Qur’an. tetapi jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan sholat. Jika tidak kau temui juga, carilah hatimu ketika duduk tafakur mengingati mati. Jika kau tidak temui juga, maka berdo’alah kepada ALLAH, mintalah hati yang baru karena hakikatnya pada ketika itu kau tidak mempunyai hati!” (Imam Al Ghazali)
  • “Jika berjumpa dengan anak-anak : bahwa anak-anak itu lebih mulia daripada kita, karena anak-anak itu belum banyak melakukan dosa daripada kita.” (Imam Al Ghazali)
  • “Apabila bertemu dengan orang tua : bahwa dia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadah.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jika berjumpa dengan orang alim : dia lebih mulia daripada kita karena banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.” (Imam Al Ghazali)
  • “Apabila melihat orang jahil : mereka lebih mulia daripada kita karena mereka berbuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita berbuat dosa dalam keadaan mengetahui.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia, karena mungkin suatu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ku letakkan arwah ku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasad ku dilipat bumi yang sunyi senyap. Nama ku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa depan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ilmu yang pertama disebut  ilham dan hembusan dalam hati, ilmu yang kedua  disebut wahyu dan khusus untuk para Nabi.” (Imam Al Ghazali)
  • “Kita tidak dapat mengakui bahwa setiap orang yang mengaku beragama itu pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.” (Imam Al Ghazali)
  • “Dahulukanlah temanmu daripada dirimu sendiri dalam masalah duniawi, atau paling tidak hendaklah bersedia memberikan bantuan materi kepada temanmu yang memerlukannya.
  • » Bantulah sekuat tenaga temanmu yang sedang memerlukan sebelum dia meminta bantuan. » Maafkanlah temanmu yang sedang berbuat kesalahan dan jangan sekali-kali mencelannya. » Do’akanlah temanmu, baik selagi hidup maupun sesudah dia meninggal dunia.” (Imam Al Ghazali)
  • ”Kerjanya seorang guru tidak ubahnya seperti kerjanya seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya.“ (Imam Al Ghazali)
  • “Barangsiapa yang berumur melebihi empat puluh tahun sedangkan kebaikannya masih belum melebihi kejahatannya, maka layaklah ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki neraka.” (Imam Al Ghazali)
  • “Yang jauh itu waktu, Yang dekat itu kematian, Yang besar itu nafsu, Yang berat itu amanah, Yang mudah itu berbuat dosa, Yang panjang itu amal shaleh, Yang indah itu saling memaafkan.” (Imam Al Ghazali)
  • ‘Nafsu adalah suatu keingininan untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan ajaran agama, hukum, apabila dalam kehidupan ini sudah dikuasai nafsu maka kehidupan ini akan semrawut, kita tidak tahu lagi mana yang halal, mana yang haram, mana yang jadi milik kita, mana yang jadi hak orang lain. Orang-orang yang dikuasai hawa nafsu dalam kehidupannya dikatakan dalam firman Allah dalam surat Al Araaf ayat 179 yang artinya: “Dan Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari golongan jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan, mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat ayat Allah) mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”Inilah gambaran kehidupan yang di kuasai nafsu.’ (Imam Al Ghazali)
  • “Ibu segala akhlak ialah tempat kebijaksanaan, keberanian, kesucian diri dan keadilan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Nasehat itu mudah, yang sulit ialah menerimanya, karena ia pahit terasa pada si hamba hawa nafsu, sebab barang yang terlarang sangat disukainya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jadikanlah “kemauan yang bersungguh-sungguh” itu menjadi mahkota roh, “kekalahan” menjadi belenggu nafsu dan “mati” menjadi pakaian badan, karena yang akan menjadi tempat tinggalmu adalah kubur, dan ahli kubur setiap saat menunggu, bilakah engkau akan sampai kepada mereka.” (Imam Al Ghazali)
  • ”Inti sari ilmu yang sebenarnya ialah mengetahui sedalam-dalamnya apa arti taat dan ibadah.“ (Imam Al Ghazali)
  • “Lidah yang lepas dan hati yang tertutup dan penuh dengan kelalaian itu alamat kemalangan besar.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jika nafsu itu tidak engkau kalahkan dengan jihad yang bersungguh-sungguh, maka sekali-kali hatimu tidak akan hidup dengan ber ma’rifat.” (Imam Al Ghazali)
  • “Jika sekiranya sekadar ilmu saja sudah memadai  bagimu, dan tidak ada lagi hajatmu kepada amal di belakang itu, tentulah seruan dari sisi Allah yang berbunyi : “Apakah ada yang memohon? Apakah ada yang meminta ampun? Dan apakah ada yang bertaubat?” itu akan percuma saja, tidak ada gunanya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Janganlah engkau meyimpan harta benda melebihi dari apa yang dibutuhkan. Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad itu sekadar untuk mencukupi kebutuhan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ilmu yang tidak disertai dengan amal itu namanya gila dan amal yang tidak disertai ilmu itu akan sia-sia.” (Imam Al Ghazali)
  • “Sesungguhnya kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan sesuatu bergantung pada keadaan dasarnya. Keadaan dasar sesuatu adalah menyangkut untuk apa ia diciptakan. Oleh karena itu, kenikmatan mata adalah dengan melihat yang indah-indah. Kenikmatan telinga adalah dengan mendengar suara-suara merdu. Begitulah seterusnya untuk anggota badan lainnya. Namun, khusus berkaitan dengan hati, kenikmatannya hanyalah manakala ia dapat mengenal Allah swt., karena hati diciptakan untuk itu. Jika manusia mengetahui apa yang tidak diketahuinya, maka senanglah ia. Begitu juga dengan hati. Manakala hati mengenal Allah swt., maka senanglah ia, dan ia tidak sabar untuk ‘menyaksikan-Nya’. Tidak ada yang maujud yang lebih mulia dibanding Allah, karena setiap kemuliaan adalah dengan-Nya dan berasal dari-Nya. Setiap ketinggian ilmu adalah jejak yang dibuat-Nya, dan tidak ada pengetahuan yang lebih digdaya dibanding pengetahuan tentang diri-Nya.” (Imam Al Ghazali)
  • “Janganlah kamu menjadi muflis dari sudut amalan dan jangan jadikan dirimu itu kosong daripada perkara yang berfaedah. Yakinlah semata- mata dengan memiliki ilmu belum tentu bisa menjamin keselamatan di akhirat kelak.” (Imam Al Ghazali)
  • “Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan.” (Imam Al Ghazali)
  • “Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.” (Imam Al Ghazali)
  • Terimalah alasan yang benar, sekalipun itu dari pihak lawan
  • Jangan segan-segan kembali kepada yang benar, manakala terlanjur salah dalam memberikan keterangan
  • Hendaklah seseorang menerima masalah-masalah yang dikemukakan oleh muridnya.
  • Berikan contoh dan teladan yang baik kepada murid dengan melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama, agar demikian apa yang engkau katakan mudah diterima dan diamalkan oleh murid.
  • Dengarkan dan perhatikan segala yang dikatakan oleh ibu-bapak-mu, selama itu masih dalam batas-batas agama.
  • Selalulah berusaha mencari keridhaan orang tuamu.
  • Bersikaplah sopan-santun, ramah-tamah dan merendah diri terhadap orang tuamu.
  • Bila mencari teman untuk mencapai kebahagian akhirat, maka perhatikanlah benar-benar urusan agamanya. Dan bila mencari teman untuk keperluan duniawi, maka perhatikanlah ia tentang kebaikan budi pekertinya.
  • Sabar dan tabahlah dalam menghadapi segala persoalan.
  • Besikaplah lemah-lembut dan sopan-santun dengan menundukkan kepala.
  • Janganlah sombong terhadap sesama mahluk, kecuali terhadap mereka yang zalim.
  • Bersikap tawadhulah dalam segala bidang pergaulan.
  • Janganlah suka bergurau dan bercanda
  • Bersikap lemah-lembut terhadap murid dan hendaklah dapat menyesuaikan diri atau mengukur kemampuan murid.
  • Hendaklah sabar dan teliti dalam mendidik muridnya yang kurang cerdas.
  • Jangan berkeberatan menjawab: “aku kurang mengerti”, jika memang belum mampu menjawab sesuatu masalah.
  • Pusatkanlah perhatian kepada murid yang sedang bertanya, dan pahamilah benar isi pertanyaanya.
  • Cepat-cepatlah memenuhi panggilan agama.
  • Jauhilah larangan-larangan agama.
  • Janganlah menentang terhadap takdir Allah SWT.
  • Berpikirlah selalu tentang nikmat-nikmat dan keagungan-Nya.
  • Menangkanlah yang hak dan gugurkanlah yang batil.
  • Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia. Dan tangisan mereka untuk sesuatu yang hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan hiduplah sesukamu karena toh kamu ‘pasti’ akan mati juga.
  • Cintailah orang sesukamu sebab kamu toh akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya kamu ‘pasti’ akan menuai ganjarannya.
  • Rendahkanlah hatimu kepada Allah SWT.
  • Sesalilah segala perbuatan yang tercela dan merasa malulah dihadapan Allah SWT.
  • Hindarilah segala tipu-daya yang tidak terpuji dalam mencari nafkah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT selalu melimpahkan karunia-Nya, disegala usaha kebaikan apapun sertailah dengan tawakal kepada-Nya.
  • “Sekalipun kamu belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab,kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal :
  • “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53] : 39)
  • “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

Imam Ghazali

    • Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid.[butuh rujukan] Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. 
    • Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

      Iklan

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

      w

      Connecting to %s