Kalimat Super: 100 Peribahasa Pilihan Sepanjang Masa

1512000245295_crop_610x203.jpg

100 Peribahasa Pilihan

  1. Ada uang ada barang (artinya jika mau membayar banyak akan mendapat barang lebih baik)
  2. Adat bersendi syarak, syarak bersendi adat ( pekerjaan / perbuatan hendaklah selalu mengingat aturan adat dan agama, jangan bertentangan satu dengan yang lain);
  3. Adat diisi, lembaga dituang (adalah melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan)
  4. Adat periuk berkerak, Adat lesung berdekak (adalah jika ingin beroleh keuntungan hendaklah bisa menanggung kesusahan dalam satu pekerjaan)
  5. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung (artinya segala sesuatu ada tata caranya)
  6. Air beriak tanda tak dalam (artinya orang yang banyak cakap atau sombong biasanya kurang ilmunya)
  7. Air besar batu bersibak (artinya persaudaraan keluarga menjadi cerai berai apabila terjadi perselisihan)
  8. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam (artinya tidak enak makan dan minum karena terlalu sedih)
  9. Air tenang (biasa) menghanyutkan (artinya orang yang diam biasanya banyak pengetahuannya)
  10. Akal tak sekali tiba (artinya tak ada suatu usaha yang sekali terus jadi dan sempurna;
  11. Akik disangka batu (artinya menghina)
  12. Akal pulas tak patah (artinya orang yang pandai tak mudah kalah dalam perbantahan)
  13. Alur bertempuh, jalan berturut (artinya dilakukan menurut adat (kebiasaan) yang lazim)
  14. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit (artinya persahabatan yang sudah putusdan tidak akan berbaik lagi)
  15. Amra disangka kedondong (artinya sesuatu yang baik disangka buruk)
  16. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan (disusui) (artinya selalu membereskan memikirkan) urusan orang lain tanpa memedulikan urusan sendiri)
  17. Anak orang, anak orang juga (artinya seseorang yang asing bagi kita akan tetap asing juga; anak sendiri Disayangi, anak tiri dibengkengi (artinya bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri juga yg diutamakan)
  18. Angan lalu paham bertumbuk (artinya menurut pikiran (dugaan dsb) mungkin untuk dikerjakan, tetapi sukar pelaksanaannya)
  19. Angan-angan menerawang langit (artinya mencita-citakan segala sesuatu yg tinggi-tinggi)
  20. Angan mengikut tubuh (artinya bersusah hati karena memikirkan yang bukan-bukan)
  21. Angguk bukan, geleng ia (artinya lain di mulut lain di hati)
  22. Bagai anak ayam kehilangan induk (artinya ribut dan bercerai berai karena kehilangan tumpuan)
  23. Berdiang di abu dingin (artinya tidak mendapatkan apa-apa dari tuan, saudara, rumah, dsb)
  24. Berkepanjangan bagai agam (artinya perbuatan atau perkataan yang berlarut-larut, beragam berlarut-larut, tidak berkesudahan)
  25. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi (artinya ilmu yg dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah)
  26. Berbilang dari esa, mengaji dari alif(artinya mengerjakan sesuatu hendaknya dr permulaan, menurut aturan)
  27. Bagai alu pencungkil duri (artinya melakukan sesuatu yg tidak mungkin berhasil)
  28. Bagai dientak alu luncung (artinya dialahkan oleh orang lemah, bodoh)
  29. Bagai guna-guna alu sesudah menumbuk dicampakkan (artinya dihargai sewaktu diperlukan, setelah tidak berguna lagi dibuang)
  30. Belum beranak sudah ditimang (artinya bersenang-senang sebelum maksudnya tercapai)
  31. Babi merasa gulai (artinya menyama-nyamai orang besar kaya)
  32. Badak makan anak (artinya ayah membuang anaknya krn takut akan binasa kebesarannya (pada raja-raja zaman dahulu))
  33. Besar kayu besar bahannya, kecil kayu kecil bahannya (artinya jika penghasilan besar pengeluaran pun besar pula)
  34. Bahasa menunjukkan bangsa (artinya budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang)
  35. Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau (artinya segala usaha hendaknya sampai kepada maksudnya
  36. Batu hitam tak bersanding (artinya tampaknya lemah lembut, tetapi keras hatinya)
  37. Bagai pinang dibelah dua (artinya sama benar, serupa benar)
  38. Buruk muka cermin dibelah (artinya karena aibnya/kesalahannya orang lain dipersalahkan)
  39. Cacing hendak menjadi naga (artinya orang hina hendak menyamai orang besar
  40. Condong yg akan menimpa (artinya perbuatan yg mendatangkan celaka)
  41. Coreng arang di muka (dahi) (artinya mendapat malu besar)
  42. Cencaru makan petang (artinya pekerjaan yang lambat tetapi hasilnya baik)
  43. Cencang dua segeragai (artinya sekali jalan, dua pekerjaan selesai)
  44. Cencang putus tiang tumbuk (artinya putusan yang mengikat)
  45. Cekur jerangau, ada lagi di umbun-umbun (artinya masih sangat muda, belum berpengalaman)
  46. Ditimbun anai-anai (artinya yang biasa bersalah juga yang dituduh orang dalam suatu kejahatan)
  47. Di alas bagai memengat (artinya kalau berkata hendaknya jangan asal berkata saja)
  48. Dalam laut boleh ajuk, dalam hati siapa tahu (artinya apa yg tersembunyi dl hati seseorang tidak dapat kita ketahui)
  49. Dangkal telah keseberangan, dalam telah ajuk (artinya telah diketahui benar bagaiman isi hatinya perangainya)
  50. Dari semak ke belukar (artinya meninggalkan sesuatu yang buruk, mendapat yg buruk pula)
  51. Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit (artinya sudah tidak dapat didamaikan lagi)
  52. Enau mencari (memanjat) sigai (artinya perempuan mencari laki-laki)
  53. Endap di balik lalang sehelai (artinya menyembunyikan sesuatu atau bersembunyi di tempat yang mudah diketahui orang)
  54. Enggan seribu daya, mau sepatah kata (artinya kalau tak suka (tak mau) biasanya banyak jawab dan alasannya)
  55. Esa hilang dua terbilang (artinya berusaha terus dengan keras hati hingga maksud tercapai)
  56. Gila di abun – abun (artinya mengharapkan sesuatu yang mustahil)
  57. Gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama (artinya orang baik akan selalu meninggalkan nama baik, sedangkan orang jahat akan meninggalkan nama buruk)
  58. Galas terdorong kepada Cina (artinya sesuatu yg sudah terlanjur, tak dapat dicabut kembali)
  59. Gamak-gamak seperti menyambal (artinya hanya dengan coba – coba atau kira – kira saja)
  60. Gayung bersambut, kata berjawab (artinya menangkis serangan orang, menjawab (melayani) perkataan orang)
  61. Gelegar buluh (artinya besar cakap, tak berisi)
  62. Geleng spt si patung kenyang (artinya berjalan dengan sombong, congkak)
  63. Gemuk membuang lemak, cerdik membuang kawan (artinya tidak mau menolong atau bergaul dengan keluarga sesudah keadaannya bertambah baik, kaya, dsb)
  64. Gengam erat membuhul mati (artinya memegang perjanjian)
  65. Habis beralur maka beralu-alu (artinya jika dengan jalan musyawarah tidak dicapai kata sepakat, barulah dengan jalan kekerasan)
  66. Habis pati ampas dibuang (artinya sesudah tidak berguna lagi lalu dibuang, tidak dipedulikan lagi)
  67. Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua (artinya budi bahasa yg baik tak akan dilupakan orang)
  68. Hakim kepada beruk (artinya minta pengadilan kepada orang yang tamak niscaya akan rugi)
  69. Hangat-hangat tahi ayam (artinya kemauan yang tidak tetap atau tidak kuat)
  70. Harimau mati karena belangnya (artinya mendapat kecelakaan karena memperlihatkan keunggulannya)
  71. Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai (artinya orang yg hidup hemat akan menjadi kaya, orang yang rajin belajar akan menjadi pandai)
  72. Hidung dicium pipi digigit (artinya kasih sayang yang semu, pura-pura saja)
  73. Hitam di atas putih (artinya dengan tulisan, tidak hanya dengan perkataan saja berkaitan dengan perjanjian)
  74. Ingat sebelum kena, ingat sebelum habis (artinya ikhtiar harus dijalankan sebelum terlambat)
  75. Ijuk tak bersagar (artinya seseorang yang tidak punya sanak saudara yang disegani orang)
  76. Ikan di laut, asam di gunung, bertemu dalam belanga (artinya biarpun tinggal berjauhan, kalau jodoh, akan menjadi laki istri juga)
  77. Ikut hati mati,ikut mata buta (artinya jika selalu menuruti nafsu akhirnya akan mendapat celaka)
  78. Ilmu padi, makin berisi makin runduk (artinya makin banyak pengetahuan makin merendahkan diri)
  79. Indah kabar dari rupa (artinya biasanya kabar selalu melebihi keadaan sebenarnya)
  80. Isi lemak dapat ke orang, tulang bulu pulang ke kita (artinya orang lain dapat senangnya, kita dapat susahnya saja)
  81. Jadi abu arang (artinya sudah usang atau basi)
  82. Jadi alas cakap (artinya dengan imbalan jasa yang telah dibuat)
  83. Jika pisau tiada baja, makin dikikir bertambah tumpul (artinya anak yang dungu, makin diajar semakin bodoh)
  84. Kalah jadi abu, menang jadi arang (artinya pertengkaran tidak akan menguntungkan pihak mana pun)
  85. Kalah limau oleh benalu (artinya orang yg lama terdesak oleh orang yg baru)
  86. Kalah sabung menang sorak (artinya biarpun kalah, tetapi masih tinggi juga cakapnya)
  87. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga (artinya karena kejahatan atau kesalahan yang kecil, hilang segala kebaikan yg telah diperbuat)
  88. Kain lama dicampak buang, kain baru pula di cari (artinya menceraikan istri tua dan mencari istri muda)
  89. Kaki naik kepala turun (artinya selalu sibuk bekerja)
  90. Kapal satu nakhoda dua (artinya satu pekerjaan yang dikepalai dua orang)
  91. Kasihan anak tangan-tangankan, kasihan biji tinggal-tinggalkan (sayang di anak dibenci, sayang di negeri ditinggalkan) (artinya yang disayangi itu hendaknya jangan terlalu dimanjakan)
  92. Kecil-kecil anak kalau sudah besar onak (artinya anak itu selagi kecil menyenangkan hati, tetapi kalau sudah besar menyusahkan hati (krn kelakuannya dsb)
  93. lain yang diagak lain yang kena (artinya yang dimaksudkan berlainan dengan yang didapat)
  94. lempar batu sembunyi tangan (artinya melakukan sesuatu kegiatan dsb, tetapi kemudian berdiam diri seolah – olah tiada tahu menahu)
  95. Ladang yg berpunya (artinya perempuan yg sudah kawin)
  96. Laki pulang kelaparan, dagang lalu ditanakkan (artinya lebih banyak mengindahkan urusan orang lain daripada urusan sendiri)
  97. Langkas buah pepaya (artinya hal yang tidak mungkin, mustahil)
  98. Laut mana yang tak berombak, bumi mana yang tak ditimpa hujan (artinya bagaimana pun manusia tidak akan luput dari kekhilafan atau kesalahan)
  99. Layar menimpa tiang (artinya kawan menjadi lawan)
  100. Mengairi sawah orang (artinya menguntung orang lain)

  • Mengalang-alang leher, minta disembelih (artinya mengharapkan kesusahan atau kecelakaan)
  • Membeli menang memakai kalah (artinya barang yang baik memang mahal harganya, tetapi dapat lama dipakai)
  • Memikul di bahu, menjunjung di kepala (artinya mengerjakan sesuatu menurut aturan)
  • Tangan mencencang (memetik, menetak) bahu memikul (artinya siapa yang salah harus menanggung hukuman)
  • Mencabik baju di dada (artinya menceritakan aib sendiri kepada orang lain)
  • Menegakkan benang basah (artinya melakukan pekerjaan yang mustahil dapat dilaksanakan)
  • Menggantang anak ayam (artinya mengerjakan pekerjaan yang tidak mungkin atau sia-sia untuk dikerjakan)
  • Orang mengantuk disorongkan bantal (artinya memperoleh apa yang diinginkannya)
  • Ombak yang kecil jangan diabaikan (artinya perkara kecil yang mungkin mendatangkan bahaya perlu diperhatikan juga)
  • Orang yang kaya juga yang bertambah kekayaannya anak baik menantu molek (artinya mendapat keuntungan yang berlipat ganda)
  • Pelanduk di dalam cerang rimba (artinya kehilangan akal atau gelisah sekali)
  • Pecah anak buyung, tempayan ada (artinya tidak akan kekurangan perempuan untuk dijadikan istri)
  • Rusak bangsa oleh laku (artinya biarpun orang berbangsa tinggi, tetapi kalau berkelakuan buruk)
  • Rusak anak oleh menantu (artinya orang yang kita kasihi merusakkan harta yang kita berikan kepadanya)
  • Seperti abu di atas tanggul (artinya tidak tetap kedudukannya sewaktu-waktu dapat dipecat)
  • Sungguhpun kawat yang dibentuk, ikan di laut yang diadang (artinya sungguhpun nampaknya tak ada suatu maksud, tetapi ada juga yg dituju)
  • Sebelum ajal berpantangan mati (artinya tidak akan mati sebelum sampai waktunya)
  • Subur karena dipupuk, besar karena ambak / besar ambak, tinggi dianjung (artinya orang besar atau tinggi kedudukannya karena dimuliakan oleh anak buahnya atau pengikutnya)
  • Sedangkan bah kapal tak hanyut, ini pula kemarau panjang (artinya sedangkan waktu berpencaharian tiada tercapai maksudnya, apalagi waktu menganggur)
  • Seperti cacing kepanasan (artinya tidak tenang, selalu gelisah karena susah, malu)
  • Setinggi-tinggi bangau terbang, surutnya ke kubangan (artinya sejauh-jauh orang merantau, akhimya kembali ke tempat asalnya atau kampung halamannya juga)
  • Sepala-pala mandi biarlah basah (artinya mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung)
  • Segenggam digunungkan, setitik dilautkan (artinya sangat dihargai)
  • Selama hayat dikandung badan (artinya selama masih hidup)
    sebagai anai-anai bubus (artinya berduyun-duyun atau berkerumun banyak sekali)
  • Terpegang di abu hangat (artinya mendapat atau mencampuri hal yang menyusahkan)
  • Tercincang puar bergerak andilau (artinya jika seseorang dihina, tentu keluarga atau kaumnya akan turut tersinggung juga)
  • Terajar pd banteng pincang (artinya tak ada gunanya mengajar orang yang keras kepala
  • Terpijak bara hangat (artinya sangat gelisah, tidak dapat tenang)
  • Tak ada gading yang tak retak (artinya tidak ada sesuatu yang tidak ada cacatnya)
  • Usul menunjukkan asal, (artinya dari kelakuan (tabiat) dapat kita ketahui asalnya
  • Utang emas boleh dibayar, Utang budi dibawa mati (artinya budi baik orang hanya dapat dibalas dengan kebaikan pula)
  • Utang tiap helai bulu (artinya utangnya banyak sekali)
  • Zaman beralih musim bertukar (artinya segala sesuatu hendaknya disesuaikan dengan keadaan Zaman)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s